 |
| Jembatan "Legendaris" MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri) menghubungkan Jl. Medokan Asri Tengah sisi Selatan dan Utara. Posisi di ujung Timur, persis MIN. Kini cat mulai sebagian mengelupas, dan tampak berkarat. Kondisi bagian bawah belum diketahui. H. Nawawi Ahmad, yang merintis pembangunannya dari Gladak kayu hingga berubah besi, juga tidak mengetahui. |
JEMBATAN "Legedaris"
MIN
(Madrasah Ibtidaiyah Negeri) di Medokan Ayu kian terasa manfaatnya. Makin dibutuhkan keberadaan-nya. Hingga kini belum pernah menjalani perawatan termasuk pengecatan ulang, sejak 10 tahun silam, sebagaimana tampak pada foto diatas. Cat mengelupas dan karat mulai bermunculan.
Jembatan "Legendaris" ini menghubungkan Jl. Medokan Asri Tengah sisi Utara dan Selatan. Di bagian selatan terdapat dua sekolahan kelas anak-anak. Yakni Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) dan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN).
MIN adalah sebuah sekolah dasar yang menyelenggarakan pendidikan agama Islam dan berada di bawah naungan langsung Kementerian Agama Republik Indonesia.
MIN memiliki jenjang pendidikan yang setara dengan Sekolah Dasar (SD). Namun dengan fokus yang lebih besar pada materi agama Islam, seperti akidah akhlak, fikih, dan Al-Qur'an Hadis.
Sedangkan MTsN adalah jenjang pendidikan formal setara SMP di Indonesia yang berada di bawah naungan Kementerian Agama.
Akhiran "N" menunjukkan bahwa madrasah tersebut adalah milik atau diselenggarakan oleh pemerintah (negeri).
Jembatan itu sendiri dikatakan legendaris dilatari keberadaannya yang berpengaruh luar biasa, terhadap kemacetan, yang bisa terjadi di jembatan Medokan Asri Utara (dekat Rumah pompa).
Tanpa Jembatan ini, sebagian warga dari 6 RW (RW03, RW09, RW11, RW12, RW13, RW14, RW15), yang mengantar dan menjemput putra-putrinya ke MIN dan MTsN harus melewati jembatan Medokan Asri Utara, dekat kawasan Rumah Pompa itu.
Bila demikian pasti tak dapat dihindari kemacetan-pun timbul di jembatan dekat rumah pompa itu. Beradu serobot pun pasti tak terelakan. Apalagi kecenderungan antar jemput sekolah memiliki keterbatasan waktu yang mepet. Belum lagi para bocah yang membawa sepeda dan motor sendiri.
.jpg) |
| Jembatan ini setelah diperbaki permanen pada 2015 juga bisa dilewati motor |
Manfaat lain, berdekatan dua sekolah, MIN dan MTsN terdapat lapangan bola umum. Warga dari 6 RW diatas, pasti mendayagunakan jembatan itu untuk menuju lapangan.
Kini pada jam masuk dan pulang sekolah, para pengantar dan penjemput sekolah senantiasa telah menunggu di sisi utara jembatan. Para siswa bisa melewati jembatan itu.
Belum diketahui, beban orang dan motor yang melewati jembatan itu saban harinya.
 |
| Foto koleksi diambil dari halaman sekolahan MIN dan MTsN. Tanda panah merah, jembatan. Sumber foto Google . |
 |
| Tanda panah merah lokasi jembatan, Foto di ambil pada 15 September Pukul 12.00, dari utara sungai sisi Timur. Sekitar jembatan senantiasa menjadi pilihan para bakul. Tempatnyapun berpayung tanaman Sonokeling.. |
 |
| Dengan penyanggah besi dan berlantaikan plat bordes, para pengendara motor bisa melewatinya dengan nyaman. Apalagi terpasang pagar pemgaman. Potrer ini diambil hari Minggu. |
.jpg) |
| Potret jembatan dari sisi Barat dan Utara sungai |
GLADAK KAYU
Jembatan ini ada sejak tahun 2005. Awalnnya jembatan kayu. Biasa disebut Gladak. Peruntukannya para penjalan kaki, dan para siswa, yang penjemputnya bisa menunnggu di utara Sungai.
Pun begitu, ada sejumlah sepeda dan motor yang nekad melewatinya. Bukan hanya oleh para siswa.
Al hasil Gladak kayu itu sempat membawa korban. Sepeda dan motor yang nekad melewatinya, tergelincir masuk sungai.
Berdasarkan penyisiran informasi, diketahui ternyata gagasan pembuatan jembatan itu dirintis oleh H. Nawawi Ahmad, warga Jl. Wonoayu RW03, yang memegang kendali Wonoayu sebagai ketua RW03, antara 2.000 - 2.006..
Ketika ditemui, Nawawi Ahmad membenarkannya. Disitu, yang bersangkutan melihat para siswa dari wilayahnya dan kawasan Medayu Utara, ketika berangkat dan pulangnya harus memutar, melalui RW02 RT04 dan melewati jembatan sisi Barat, dekat rumah pompa.
Dari itu, Nawawi Ahmad menghela nafas panjang. Merasa "trenyuh", melihat anak-anak pada ngebut dengan mumutari jalan ke sekolahan.
Pada tahun 2005, kebetulan ada yang menawari bongkaran jembatan kayu di pondok chandra. Lalu dibelinya secara pribadi. Tujuannya, kayu-kayu itu itu untuk jembatan darurat dan keperluan tambak nya.
Dari situ, mulai dibangunlah jembatan Gladak kayu. Jembatan ini digunakan selama 10 tahun. Mulai 2005 sampai tahun 2015.
JEMBATAN BESI
Mengingat volume pengguna jembatan kian ramai. Para bocah banyak melewatinya dengan membawa sepeda, berpikirlah untuk merubah jembatan lebih layak dan aman.
Pada 2010 Nawawi Ahmad, S.Pd., terpilih sebagai ketua LKMK. Bahkan sampai tiga periode 2010-2013, 2013-2016, dan 2019-2022.
Sejak saat itu, Nawawi mengusulkan perbaikan jembatan yang mirip di kawasan desa tertrtimggal itu melalui program Musrembang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan). Namun selalu gagal. Dimaklumi pula, "menu perbaikan jembatan" tidak ada di Musrembang.
Lalu, diajukannya melalui Badan Keswadayaan Masyarakat. Kebetulan Nawawi juga sebagai ketua di kawasan Kelurahan Medokan Ayu. Yakni menerobos Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM).
Disitu, keinginan memperbaiki jembatan ke tingkat lebih layak terpenuhi. Pada 2015 pembangunan dimulai. Semua berbahan besi.
Sejak tahun 2015 itu, kondisi jembatan menjadi layak dan aman dilewati.
H. Nawawi Ahmad, dengan BKM -nya yang merintis pendirian jembatan itu, mengingatkan. Usia jembatan itu, kini sudah 10 tahun. Sebagian cat mengelupas dan karat bermunculan.
Video oleh Hermawan, sekaligus menampakan bagian-bagian berkarat pada pagar pengaman.
Oleh sebab itu, perlu adanya perawatan, agar umur jembatan besi di kawasan bergaram ini bisa bertahan lebih lama. Bagian bawah jembatan juga perlu dikontrol. "Perawatan ini penting. Apalagi kini ekonomi sulit", tandasnya.
Hal ini tidak bisa diserahkan kepada para RW. "Harus LPMK yang memfasilitasi", kata Nawawi Ahmad yang ditemui Kamis siang tadi.
— — — — —
HALAMAN LAIN klik 👇